Sertifikasi vegan dan cruelty free semakin sering muncul pada kemasan produk kosmetik, dan semakin sering pula ditanyakan oleh konsumen. Keduanya sering dianggap satu hal yang sama, padahal mengacu pada hal yang berbeda dan sebuah produk dapat memenuhi salah satunya saja.
Perbedaan Keduanya
Cruelty free mengacu pada tidak dilakukannya pengujian pada hewan, baik untuk produk jadi maupun untuk bahan penyusunnya.
Vegan mengacu pada tidak digunakannya bahan yang berasal dari hewan dalam formula.
Sebuah produk dapat memenuhi kriteria cruelty free tetapi tidak vegan, misalnya produk yang tidak diuji pada hewan tetapi mengandung madu, lilin lebah, atau lanolin.
Sebaliknya, produk dapat mengandung hanya bahan nabati tetapi tetap melalui pengujian pada hewan.
Bahan Hewani yang Umum dalam Kosmetik
Beberapa bahan yang berasal dari hewan dan cukup sering dijumpai:
- Lilin lebah. Umum dalam produk bibir dan balm.
- Madu dan turunannya. Dipakai sebagai humektan dan bahan pelembut.
- Lanolin. Berasal dari bulu domba, dipakai sebagai bahan pelembut.
- Karmin. Bahan pewarna merah yang berasal dari serangga, umum dalam produk bibir dan pipi.
- Kolagen dan elastin. Umumnya berasal dari hewan.
- Sebagian bahan turunan lemak. Gliserin, asam stearat, dan bahan pengemulsi dapat berasal dari sumber nabati maupun hewani.
- Squalane. Dapat berasal dari sumber hewani maupun nabati.
Poin terakhir menunjukkan tantangan utama: banyak bahan memiliki nama yang sama tetapi dapat berasal dari sumber yang berbeda. Menentukan status vegan sebuah produk menuntut penelusuran sampai ke pemasok bahan baku.
Hubungan dengan Sertifikasi Halal
Bagi pemilik brand di Indonesia, ada tumpang tindih yang menarik.
Proses sertifikasi halal juga menuntut penelusuran asal bahan sampai ke pemasok, terutama untuk bahan turunan lemak dan bahan yang dapat berasal dari hewan.
Ini berarti pemilik brand yang sudah menjalani proses sertifikasi halal umumnya sudah memiliki sebagian besar dokumen penelusuran yang diperlukan untuk menilai status vegan produknya.
Perlu dicatat bahwa keduanya tidak identik. Bahan hewani tertentu dapat memenuhi kriteria halal tetapi tidak memenuhi kriteria vegan.
Klaim Tanpa Sertifikasi
Berbeda dengan sertifikasi halal yang memiliki sistem penyelenggaraan yang jelas di Indonesia, klaim vegan dan cruelty free tidak memiliki sistem sertifikasi tunggal yang berlaku secara nasional.
Yang beredar adalah berbagai lembaga sertifikasi, sebagian besar berbasis di luar negeri, dengan kriteria dan tingkat ketelitian yang berbeda-beda.
Konsekuensinya:
Bagi konsumen: logo pada kemasan perlu diperiksa, karena tidak semua logo mewakili proses verifikasi yang setara. Sebagian produk mencantumkan klaim tanpa sertifikasi apa pun.
Bagi pemilik brand: klaim yang dicantumkan tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan berisiko, terutama bila kemudian ditemukan tidak sesuai.
Pertimbangan bagi Pemilik Brand
Apakah klaim ini diperlukan
Bergantung pada target pasar. Untuk sebagian segmen, terutama pasar ekspor tertentu, klaim ini menjadi pertimbangan yang cukup berpengaruh. Untuk sebagian besar pasar dalam negeri, sertifikasi halal umumnya jauh lebih menentukan.
Konsekuensi terhadap formula
Menghindari seluruh bahan hewani membatasi pilihan bahan. Sebagian bahan memiliki pengganti nabati dengan karakter serupa, sebagian lain memerlukan penyesuaian formula yang lebih besar.
Bahan pewarna merah dari sumber hewani, misalnya, memiliki karakter yang cukup khas dan penggantiannya memerlukan penyesuaian.
Konsekuensi terhadap rantai pasok
Penelusuran asal bahan menuntut dokumen dari pemasok. Pemasok yang tidak dapat menyediakan dokumen tersebut perlu diganti, yang dapat memengaruhi biaya dan ketersediaan.
Konsistensi
Klaim ini perlu dijaga konsistensinya. Penggantian pemasok bahan baku tanpa pemeriksaan ulang dapat membuat klaim menjadi tidak akurat.
Menyusun Klaim yang Bertanggung Jawab
Beberapa prinsip:
- Pastikan dasar klaim sebelum mencantumkannya. Penelusuran sampai ke pemasok, bukan sekadar asumsi.
- Bedakan antara kedua klaim. Jangan mencantumkan keduanya bila hanya salah satu yang terpenuhi.
- Simpan dokumen pendukung. Diperlukan bila klaim dipertanyakan.
- Perhatikan ketentuan negara tujuan bila ada rencana ekspor, karena sebagian negara memiliki pengaturan tersendiri mengenai klaim semacam ini.
- Perbarui pemeriksaan ketika ada perubahan pemasok atau formula.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah produk vegan otomatis halal?
Tidak otomatis. Sertifikasi halal mencakup lebih dari sekadar asal bahan, termasuk proses produksi dan bahan pembantu yang dipakai.
Apakah produk halal otomatis vegan?
Tidak. Bahan hewani tertentu dapat memenuhi kriteria halal tetapi tidak memenuhi kriteria vegan.
Apakah klaim ini diatur di Indonesia?
Berbeda dengan sertifikasi halal, klaim vegan dan cruelty free tidak memiliki sistem penyelenggaraan tunggal secara nasional. Namun klaim yang tidak benar tetap dapat menjadi persoalan dari sisi ketentuan mengenai informasi produk.
Apakah bahan nabati selalu lebih baik?
Tidak dari sisi kinerja atau keamanan. Pilihan ini lebih berkaitan dengan preferensi dan nilai yang dianut konsumen.
Menentukan Arah Sejak Awal
Bila klaim ini menjadi bagian dari posisi brand, hal tersebut sebaiknya disampaikan sejak tahap perumusan konsep produk. Penggantian bahan pada tahap akhir berarti pengulangan pengujian dan penyesuaian jadwal.
PT Dwi Jaya Cosmedika mengerjakan pengembangan dan produksi kosmetik untuk pemilik brand, termasuk penelusuran asal bahan yang diperlukan untuk keperluan sertifikasi. Untuk membicarakan rencana produk Anda, hubungi tim kami di WhatsApp resmi.

